Paradoks Dua Zaman

*Oleh: Manganju Luhut

Picture2

Apa yang menarik dari ketiga orang ini?

Yang menarik adalah bukan sekedar pengorbanan ketika saat masa-masa perjuangan lepas dari kolonial atau pun saat di pengasingan, bukan pula sekedar kesederhanaannya, namun satu hal tersendiri yang perlu kita renungkan sejenak adalah jiwa besar yang mereka miliki. Mereka sangat terbuka mengritik dan mengingatkan satu sama lain termasuk juga kepada rakyatnya dengan tujuan besar: membangun karakter/kepribadian rakyatnya dan sekaligus mendidiknya.

Ciri yang sangat khas ini akan sangat kontras berbeda jika kita sandingkan dengan para politisi kita saat ini yang begitu paranoid dan takut kehilangan dukungan serta tidak berani mengritisi rakyatnya secara terbuka, yang sering kita dengar justru kalimat-kalimat sanjungan tanpa makna sehingga berujung kita hanyut terbuai dalam kekosongan.

Para founding father kita menempa diri mereka dengan serius sehingga memiliki intelektualitas yang sangat tinggi. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Tan Malaka, Leimena dan tokoh-tokoh besar lainnya tidak lahir dari pemahaman yang sempit akan makna ilmu pengetahuan dan memahami perkembangan peradaban. Sejak muda Soekarno telah mengenal baik pemikiran Marx, Locke, Voltaire, Max Havelaar. Hatta akrab dengan Adam Smith, Spinoza, Hobbes. Sjahrir familiar dengan John Stuart Mill, Kant, Friedrich Engels dll, begitu juga halnya dengan Tan Malaka.

Semua itu mereka ramu sebagai bekal untuk menjadi jendela cakrawala dalam melihat dunia, kemudian kembali pada kondisi rill bangsanya. Karakter kuat inilah yang melahirkan gagasan segar lalu berpijak dengan kultur dan realitas bangsanya. Kita masih bisa menemui jejak-jejak itu hingga sekarang. Jika kita membuka lembar sejarah, maka kita akan menemukan Soekarno menulis Nasakom, Berdikari, Nation and Character Building; Hatta menulis Alam Pikiran Yunani, Demokrasi Kita; Sjahrir menulis Renungan Indonesia, Perdjoangan Kita. Apalagi Tan Malaka yang begitu banyak melahirkan buah pemikirannya, salah satu masterpiece legendarisnya: Materialisme Diialektika dan Logika, sebagai ajakan pondasi konstruksi berpikir yang rasional empiris. Semuanya bertujuan sama yaitu mendidik kepribadian rakyatnya.

Jika kita baca pidato-pidato Soekarno, dia menggunakan metafora yang tepat, bukan seperti politisi sekarang ini yang kosong tanpa gagasan. Adakalanya Soekarno menyanjung dan membakar semangat rakyatnya namun ada saat tanpa segan-segan dia mengritik habis-habisan bahkan sekalipun itu para akademisi dengan lugas diingatkan untuk “tidak sekedar menjadi textbook thinker“, begitu juga para pelajar dan mahasiswa dibakar semangatnya dan disodorkan realitas perkembangan peradaban dunia. Salah satunya dapat kita baca dan cermati pidatonya saat memberikan ceramah kepada para pelajar di Surakarta

“…Di Tiongkok ada satu kampanye hebat, memberantas ketakhyulan. Ya memang, ketakhyulan harus diberantas; tetapi ketakhyulan yang diberantas di Tiongkok itu bukan ketakhyulan mengenai dhemit, memedi, jin, peri perayangan saja. Juga ketakhyulan ekonomi, ketakhyulan geologi diberantas sama sekali. Kita masih menderita penyakit ketakhyulan geologi, ketakhyulan ekonomi, karena dicekoki oleh Belanda. Misalnya berkata: Indonesia tidak mempunyai bijih tembaga. Kita percaya bahwa Indonesia itu tidak mempunyai arang batu, arang batu yang kalorinya tinggi, seperti arang batu di Inggris, di Cardiff, yang dia punya kalori 7.900 atau 8.000. Indonesia tidak punya. Ada yang berkata Indonesia itu tidak mempunyai bijih emas kecuali sedikit di Sumatera Selatan. Kita percaya. Nah, ini menjadi ketakhyulan Saudara-saudara. Takhyul ekonomis, takhyul geologi kepada kita, bahwa Indonesia hanya mempunyai bijih emas di situ, tidak mempunyai bijih tembaga. Diberantas RRT.

Cara memberantasnya bagaimana? Pemuda-pemuda, pemudi-pemudi diberi sedikit pengetahuan hal geologi. Bijih besi itu, rupanya begini. Bijih emas, begini rupanya. Bijih tembaga, begini. Pemuda-pemuda mengerti lantas tahu: O, bijih ini begini, bijih itu begitu, dan lain-lain sebagainya; disebarkan di seluruh tanah air RRT, disuruh pemuda-pemudi itu mencari, mencari. Dan hasilnya apa ? Ternyata bahwa diseluruh RRT ada bijih besi. Dahulu orang berkata bahwa besi ada bijih besi. Dahulu orang berkata bahwa besi di RRT hanya terdapat di situ, di situ bagian sedikit daripada RRT utara. Sekarang tidak. Di mana-mana ternyata ada bijih besi. Oleh karena pemuda dan pemudinya menyelidiki – explore, katanya Inggris – explore di mana-mana, sehingga di tiap-tiap propinsi di RRT sekarang ada tanur. Tanur yaitu pembakaran bijih besi ini untuk dijadikan besi.

Nah, kita pun harus demikian. Berantas segala takhyul, bukan saja takhyul setan tetapi juga takhyul ekonomis dan geologis yang ada di dalam dada kita, tetapi agar supaya kita bisa memberantas takhyul itu, kita pertama harus mempunyai human skill. Kedua mentalitas kita harus investment yang sehebat-hebatnya; mental investment. Menjadi pemuda-pemudi yang dinamik, menjadi bangsa yang dinamik. Sebab kalau tidak demikian, kita tidak akan mengerti garisnya sejarah ini. Pak Leimena ini sudah takut saja; Wah, nanti Indonesia ini jikalau tidak progresif, verpletterd in het gedrang van mensen en volkeren die vecthen om het bestaan. Seluruh dunia sekarang ini mengejar kepada progresivitas.

(Ceramah Soekarno kepada para pelajar di Surakarta, 11 Juli 1960 dengan judul “Pemuda Mesti Dinamis”)

 

Saya kira kita memang tidak perlu terjebak pengultusan, namun harus kita akui bahwa ketiga orang itu memang hebat dan brilian. Sehingga tidak heran kalau dimasanya kita berhasil menjadi lokomotif penggerak dan inspirator kemerdekaan negara-negara di Asia dan Afrika, serta mengambil peran geopolitik yang strategis dalam pergolakan dunia. Mereka tentu saja bukan sekedar tukang catut dan tukang kutip hanya agar terkesan intelek, samasekali jauh dari itu, mereka pribadi yang berpikiran merdeka.

Ketika membaca tulisan atau dengar pidato-pidato Soekarno kita akan tahu bahwa dia penuh gagasan dan akrab dengan pemikiran para tokoh-tokoh besar dunia, begitu juga halnya Hatta pun Sjahrir.

Jejak ini masih bisa kita rasakan hingga saat ini.

Ada tiga ungkapan yang familiar dan kita ingat dari ketiga manusia cerdas ini, mereka memperolehnya saat menempa diri dimasa mudanya:

“Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi-tingginya. jangan takut jatuh. Namun bila memang engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”, penggalan ini diadopsi dan dielaborasi Soekarno dari kitab Emerson. Dia membacanya tengah malam dengan lampu semprong saat masih menjadi mahasiswa di Bandung.

“Hanya ada satu negeri yang menjadi negeriku. Ia tumbuh dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah usahaku” – nasehat mendalam ini merupakan pledoi Hatta “Indonesia Vrij” 9 Maret 1928 di Belanda, ungkapan yang disitirnya dari kata-kata pujangga Rene de Clerq.

“Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan” ungkapan ini menjadi bahan bakar semangat dalam jejak langkah perjuangan dan hidup Sjahrir, Nasehat itu dibacanya dari buku sastrawan Jerman Friedrich Schiller, sebuah lagu dengan judul Das Reiterlied (lagu penunggang kuda).

Sikap autokritik dijalankan, dan perdebatan gagasan disuarakan, tapi ini rasanya mustahil dan tidak akan pernah lagi kita temui hari-hari ini.

Kalau kita berani jujur dan bertanya dalam hati, sampai saat ini SBY memang masih menjabat sebagai presiden namun sebenarnya apa yang pernah kita ingat dari beliau? Lagunya? Sepertinya, sepenggal kalimat dari liriknya juga kita tak tahu. Atau justru lebih ingat “prihatinnya”?

Di zaman yang serba edan ini memang banyak hal-hal yang terbalik.

Di tengah kekosongan dan slogan-slogan semu itu kita sekedar diminta berbondong-bondong ke bilik suara tanpa pernah paham apa hak kita, bahkan untuk mengetahui laporan tahunan daftar hadir presensi rapat parlemen pun kita seolah tak berhak.

Hari-hari ini rasanya ruang publik lebih dikuasai sentimen, bukan mengedepankan kualitas argumen. Disisi lain, ada juga iklan-iklan yang dengan suara lantang menggebugebu berlagak negarawan mengutamakan rakyat, namun sebenarnya tak lebih bertujuan untuk mengamankan asetnya.

Kita dipertontonkan sosok-sosok politikus karbitan dengan komentar-komentar yang kerap tak menyentuh substansi persoalan, pendapat-pendapat yang jauh panggang dari api seperti layaknya “ayam tanpa kepala”, berusaha melucu dengan bahasa murahan dan tidak pada tempatnya, politikus pembela mati-matian sekadar  menjadi anjing penggonggong partai.

Ketika gagal menyampaikan pemikiran dengan landasan etika publik yang rasional maka yang dilakukan justru menggadaikan dan memanipulasi ayat-ayat suci untuk mendapatkan dukungan, perebutan surga dan neraka dikapling-kapling masyarakat, kita berada di bawah bayang-bayang kegagapan intelektualitas disertai irasionalitas prasangka tak berdasar, tidak adanya budaya diskusi, kekonyolan dan ketidakmauan berpikir dipertontonkan semisal membakar buku, agama dijadikan alat politik dan dijual habis-habisan, sementara elit sibuk memamerkan hedonisme berfoya-foya ditengah kemiskinan masyarakatnya.

Setali tiga uang, media yang tadinya diharapkan sebagai wadah pencerahan justru berlaku sebaliknya, lebih nyaman dan sibuk menyajikan joged-joged tak karuan malam hingga berjam-jam mewarnai frekuensi publik semata-mata berlindung dengan dalih hiburan, ranah privat seputar cerai rumah tangga orang dibahas habis-habisan dan dipertontonkan seolah hendak menjadi hal yang perlu dicontoh dan diteladani. Sikap konsumtif dipopulerkan hendak menekankan bahwa materi dan kekayaan adalah satu-satunya jalan untuk dapat menjadi pribadi yang dihargai. Perlahan gejala ini juga mulai menjangkiti anak-anak muda, dulu anak-anak muda sekolah keluar negeri untuk memerdekakan bangsanya, sialnya sekarang justru banyak bercita-cita menjadi mafia, menjadi makelar.

Namun, pada lubuk hati yang paling dalam kita mesti yakin bahwa kebodohan dan kekonyolan tentu harus ada batasnya, tentunya kita dapat menatap hari esok dengan lebih realistis tanpa harus terjebak dalam optimisme palsu. Jauh hari Pram juga telah berpesan “Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia” (Rumah Kaca, h. 436).

Sekian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s