Kebenaran Ilmiah dan Kebenaran Intelektual

Oleh: L. Wilardjo*

Ilmu (sains) bertujuan menemukan kebenaran. Bila kebenarannya yang dicari melalui kegiatan keilmuan itu ditemukan, ia disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini tidak mutlak. Ia tidak sama persis dengan realitas “yang dari sononye“. Sains hanya dapat memerikan realitas ciptaan Sang Alkhalik dalam pendekatan. Itu pun sifatnya tentatif. Apa yang sekarang diyakini sebagai benar, bisa saja kemudian ternyata salah, atau ada kekurangannya sehingga harus direvisi.

Untuk memastikan kebenaran ilmiah sesuatu temuan baru, harus dilakukan pentasdikan (validasi), yang bisa dilakukan melalui verifikasi/konfirmasi atau — menurut Karl Popper — melalui falsifikasi/refutasi. Dalam validasi itu dipakai patokan-patokan. Untuk ilmu-ilmu formal (seperti Matematika dan Logika) cukup satu patokan, yakni kepanggahan dakhil (konsistensi internal). Dengan kata lain pernyataannya harus logis. Sedangkan untuk ilmu-ilmu real harus ditambahkan patokan kedua, yakni kebersesuaian (correspondence). Pernyataan dalam ilmu real tidak cukup hanya logis; ia harus pula sesuai dengan kenyataan yang ada di “lapangan”.

Ilmuwan dan terutama filsuf yang mengugemi pragmatisme belum puas dengan patokan kepanggahan (konsistensi) dan kebersesuaian (korespondensi). Mereka menuntut fungsionalitas. Apa yang logis dan faktual itu juga harus berfungsi dalam praktik. Lebih baik lagi kalau penerapan praktis itu menghasilkan nilai tambah.

Maka tentang ketiga patokan kebenaran ilmiah itu dapat dikemukakan ujaran-penanda (tagline). “Dua yang pertama bagus, yang ketiga bonus”. Pada hemat saya, dalam ilmu real, memenuhi kedua patokan yang pertama saja sudah cukup. Promotor tidak usah menuntut promovendus/promovenda di bawah bimbingannya untuk dalam di sertasinya menjelaskan implikasi praktis dari temuan yang diangkatnya menjadi tesis dan dipertahankannya dalam sidang ujian. Tuntutan itu berlebihan.

Perburuan Fakta dan Makna

Meskipun pernyataan dalam ilmu real harus logis dan faktual, baik teori yang hanya logis tetapi tanpa kenyataan, maupun kenyataan yang tidak/belum ada penjelasan logisnya, ditelaah terus dengan serius dalam masyarakat ilmiah (scientific community).

Teori yang logis-rasional, tetapi tidak/belum ada bukti empirisnya, bisa mempesona keindahannya bagi yang mampu memahaminya. Teori Adidawai (Superstring) atau teori “M” dalam Kosmologi yang dianggap beranjak dari “Dentuman Besar” (the Big Bang), dan telaah-telaah ilmiah hasil penelitiannya orang-orang pintar seperti Stephen Hawking dan Roger Penrose disebut “Salah saja tidak.” Ungkapan “Nicht einmal falsch” itu barangkali diucapkan Wolfgang Pauli ketika” membantai” Keseduaan Zarah-Gelombang (Particle-Wave Duality)-nya Louis de Broglie dalam knoperensi di Solvay, Belgia. (Tetapi ternyata de Broglie benar Teori de Broglie itu tidak hanya memberinya gelar doktor dari UniversitĂ© de Paris dan Nobel Fisika dari Stockholm, tetapi juga hadiah Nobel bagi Clinton J. Davisson dan juga bagi George P. Thomson, yang memberikan bukti empirisnya).

Kenyataan empiris yang belum dapat dijelaskan secara logis-rasional ialah, misalnya, pemuaian jagad raya yang lajunya meningkat, energi gelap, dan mataeri gelap. Apakah ini anomali-anomali yang mengarah ke krisis dan kemudian akan diselesaikan dalam lonjakan paradigmatik revolusi ilmiah a la Thomas S. Kuhn, entahlah. Kita tunggu saja.

Kebenaran Intelektual

Kebenaran intelektual meliputi kebenaran ilmiah dan temuan dari telaah yang “salah saja tidak.” Telaah intelektual mempunyai nilai di dalam dirinya sendiri, tak tergantung pada apakah temuannya terbukti secara faktual-empiris. Kegiatan intelektual yang mencakup pula pengembaraan di alam abstrak dan di ranah nilai-nilai kemanusiaan memberikan keasyikan yang memukau cendekiawan yang menggelutinya, tak tergantung pada penerapan praksisnya.

Kebenaran intelektual inilah yang (saya kira) digandrungi cendekiawan seperti Dr. (d’etat lulusan Sorbonne) Daoed Joesoef. Kebenaran intelektual ini sejalan dengan kebebasan akademik dan senafas dengan konsep “Bildung” dalam reformasi pendidikan di Jerman di tahun 1800-an. “Bildung ist das, was bleibt, wenn man alles Gelehrnte vergessen hat.” Pendidikan ialah apa yang masih tertinggal bila semua yang kita pelajari sudah terlupakan. Yang masih tersisa itu tentulah yang terpenting dan paling kena-mengena dengan apa yang menjadi pergumulan di dalam pikiran kita.

Menurut Daoed Joesoef Bildung itu bersinergi secara timbal-balik dengan kebudayaan. Barangkali itu didasarkan pada anggapan yang masuk-akal bahwa pandangan para cendekiawan mempengaruhi masyarakat, dan dengan demikian mewarnai kebudayaan bangsanya.

Kebudayaan

Rasanya sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta bahwa semua makhluk ciptaannya senantiasa berjuang untuk sintas (survive), untuk bertahan hidup dan bahkan berkembang. Kebudayaan ialah usaha, manusia untuk memperoleh “kedudukan di atas angin” dan bertahan pada posisi itu, dalam interaksinya dengan lingkungannya, baik lingkungan alam, maupun lingkungan sosial. “Berkedudukan di atas angin” berarti unggul, atau setidak-tidaknya tidak tak-berdaya. Kalau pun terpaksa menderita hebat karena hantaman bencana alam atau bencana sosial yang datang tiba-tiba tanpa dapat diantisipasi dan dielakkan, yang berkebudayaan mampu bangkit kembali.

Di dalam pernyataan kemerdekaannya, yang dijadikan bagian dari mukadimah UUD-nya bangsa Amerika Serikat menempatkan hidup, kemerdekaan dan mengejar kebahagiaan (life, liberty, and the pursuit of happiness) sebagai hak asasi yang tidak dapat dipisahkan dari warga negara Amerika. Kita di Indonesia menugasi pemerintah untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. “Pembahasaannya” berbeda, tetapi intinya sama, preambule konstitusi Amerika dengan mukadimah UUD kita. Keduanya mempertahankan kedudukan di atas angin; dengan kata lain, bertekad untuk mengembangkan kebudayaan.

Bagi kita, khususnya kalau kita sejalan dengan cendekiawan seperti Daoed Joesoef, mengembangkan kebudayaan berarti mencari kebenaran intelektual dengan memajukan pendidikan yang berjiwa Bildung. Ini bertentangan dengan pragmatisme neolib yang ingin memaksakan link-and-match, yang ujung-ujungnya menempatkan pendidikan di bawah sol sepatu lars “pasar”.

*Guru Besar Fisika UKSW

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s