Alexandria dan Museum

Oleh: Hendra Gunawan*

Disampaikan pada Mimbar Gagasan & Diskusi Suar Indonesia, di Gedung Indonesia Menggugat, Sabtu 8 Maret 2014

 

Alkisah, pada tahun 323 SM, Ptolemy I Soter, seorang Jendral yang mengabdi pada Raja Alexander Agung, diangkat sebagai Gubernur Mesir, tak lama setelah Sang Raja meninggal. Sebelumnya, Alexander Agung membangun kota Alexandria pada 331 SM sebagai ibukota Mesir dan menjadikannya sebagai pusat peradaban Yunani, yang menyaingi Athena. Di kota ini, Ptolemy yang telah menobatkan dirinya sebagai Raja Mesir pada tahun 305 SM, membangun Museum, sebuah pusat riset dan belajar tentang musik, matematika, dan filsafat, seperti halnya Achademya Plato di Athena.

Museum memiliki perpustakaan besar yang menyimpan 600.000 gulungan teks (setara buku sekarang) tentang musik, puisi, filsafat, matematika, fisika, astronomi, dan lain-lain. Di Museum, para skolar melakukan riset dan publikasi, memberi ceramah, berdiskusi, dan mengoleksi literatur dari berbagai belahan dunia lain. Bila dibandingkan dengan lembaga serupa pada zaman ini, Museum mirip dengan Institute for Advanced Study di Princeton, atau College de France di Paris, atau universitas riset pada umumnya.

Di Museum itulah Euclid, sahabat karib Ptolemy, diangkat sebagai Ketua Departemen Matematika. Selama bertugas di sana, Euclid menulis banyak buku, a.l. Optics dan Elements. Buku Elements adalah buku geometri yang terdiri dari 13 jilid, merangkum karya Pythagoras, Hipassus, Theaetetus, Eudoxus, dan lain-lain. Buku ini menjadi standar penulisan buku teks matematika hingga saat ini. Dari Museum kelak “lahir” nama besar Archimedes dan Eratosthenes.

Beberapa ratus tahun kemudian, Kerajaan Mesir dan Macedonia ditaklukkan oleh Kerajaan Roma, dan setelah Kerajaan Roma menjadi Kristen pada abad ke-4 M, kegiatan keilmuan dan filsafat di seluruh wilayah kekuasaannya meredup. Pada tahun 529 M, Achademya Plato ditutup oleh Kaisar Justin, konon karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Pada saat itu, Museum dan Perpustakaan Besar juga sudah rusak, dan aktivitas para skolar tidak terdengar lagi. Pada tahun 642 M, Alexandria luluh lantak dan jatuh ke bangsa Arab.

Banyak teks yang musnah, namun buku Elements termasuk yang terselamatkan dan kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa, a.l. bahasa Arab, Latin, dan kemudian bahasa Inggris. Ya, bangsa Arab pernah mewarisi ilmu Matematika dari Euclid, Archimedes, dan lain-lain, dan mengembangkannya. Bahkan, orang Eropa pun mempelajari Matematika dari orang Arab-Persia, dan itu terjadi pada abad ke-11 dan 12. Apa yang terjadi kemudian, sayangnya, bangsa Arab memilih untuk meninggalkan ilmu pengetahuan. Sementara itu bangsa Eropa melawan doktrin agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan lebih jauh, dan mengalami era Renaisans dan Aukflarung. Itulah yang membuat mereka maju hingga sekarang.

Konon, di belahan dunia lain, di sekitar khatulistiwa, ada bangsa bahari yang menguasai lautan. Namun, sayangnya, kita tidak menemukan warisan berupa dokumen atau teks ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan yang menjadi kebanggaannya. Bahkan seribu tahun kemudian pun budaya tulis-menulis rupanya belum mengakar di negeri bahari tersebut.

Lain bangsa, memang lain budayanya. Kita mesti memetik hal-hal yang baik untuk ditiru, dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh bangsa lain maupun para pendahulu kita.

 

*Ketua Suar Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s