Melucuti Persekolahan

 Oleh: Kimura T

 

Bicara mengenai sekolah itu paradoks. Lembaga pendidikan yang satu ini “dicaci” namun tetap diminati. Sekolah selalu menjadi tertuduh akan biang keladi keboborakan pendidikan. Ketertuduhan ini pantas dialamatkan kalau melihat apa yang disajikan oleh persekolahan. Baru-baru ini sekolah menjadi tempat terjadinya tindakan tidak terpuji. Kecurangan Ujian Nasional (UN) nyata-nyata dipelopori oleh sekolah dan kaum persekolahan. Guru sebagai ujung tombak persekolahan termasuk yang mempeloporinya. Kejujuran diinjak-injak. Idealisme intelektual telah mati. Bahkan sekolah menjadi tempat bersembunyi orang-orang yang tidak menghagai kerja keras, kejujuran dan idealisme. Lihat saja kasus seorang anak yang dikeluarkan dari sekolah karena mememberi tahu adanya kecurangan pada pelaksanaan UN. Uniknya, masyarakat justru ikut bersekongkol dengan sekolah. Anak itu malah menjadi musuh masyarakat.[1] Keluhuran dan keutamaan hilang atau malah dihilangkan. Belum lagi ulah para guru besar yang ternyata melakukan plagiat.

Begitu juga dengan kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional, sekolah jenis ini melegitimasi anggapan pendidikan berarti mahal. Meski secara hukum telah dihentikan, secara praksis masih berkeliaran. Mereka (Sekolah dan pendukung persekolahan ini) mengumandangkan apa yang ditulis oleh Eko Prasetyo[2]: “Orang miskin dilarang sekolah.” Persekolahan hanya berpihak pada kaum borjuis. Yang kaya yang sekolah. Lalu orang miskin pun hanya bisa mengutuki diri. Orang miskin menelan bulat-bulat orang miskin tidak boleh bersekolah sebagai suatu takdir. Kalau pun bersekolah berarti sekedarnya. Bagaimana tidak, guru-guru, orang tua dan kaum persekolahan sudah kepalang mengamini bahwa faktor kesejahteraan (ekonomi)-lah biang keladinya.

Di sekolah, peserta didik (siswa) hanya melakukan apa yang disebut oleh John Holt[3] sebagai strategi peniruan. Dimana siswa hanya belajar bagaimana berpikir dan bertindak sesuai yang dimaui oleh sekolah dan guru. Guru dan Sekolah memerankan diri sebagai penentu cara berpikir dan tingkah laku siswa. Maka siswa (bahkan semua warga sekolah) taat membabi buta. Pengalaman saya menjadi guru menunjukkan hal ini. Siswa-siswa hanya percaya kebenaran jika guru menjawab iya atau tidak. Mereka lupa bagaimana menggunakan pikiran dan perasaan mereka. Inilah hasil tabungan pendidikan gaya bank yang diungkapkan oleh Freire[4].

Lalu apa yang tersisa dari persekolahan? Kalau Nietzche pernah berkata “Tuhan sudah mati” maka Reimer[5] pun mengungkapkan demikian. Reimer  melalui hasil penelitian dan diskusinya dengan Ivan Illich mendapati berbagai ketidaktaatan azas dan kontradiksi dalam lembaga yang namanya “sekolah”.  Dia pun menyimpulkan: “Sekolah sudah mati!”

 

Kalau begitu mengapa tetap saja setiap tahun ajaran baru berbondong-bondong manusia mendatangi persekolahan? Bukannya sekolah sudah kehilangan peran dan esensinya? Illich mengatakan masyarakat telah terbelenggu[6]. Sekolah telah membelenggu masyarakat sehingga bagaimana pun keadaan persekolahan masyarakat tidak akan bisa lepas darinya. Lebih keras dikatakannya bahwa sekolah sudah menjadi agama baru di masyarakat.[7] Sekolah telah menempatkan dirinya sendiri sebagai satu-satunya lembaga pendidikan. Satu-satunya tempat dimana setiap orang dapat belajar. Sehingga pendidikan dibangun dalam kerangka pemikiran bahwa pendidikan adalah sekolah. Tidak hanya pendidikan melainkan juga realitas sosial itu sendiri sudah dibangun di atas pemikiran mengenai sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan. Akibatnya masyarakat mengalami ketergantungan pada sekolah. Dimana pun, ketergantungan berarti ketidakberesan. Ketergantungan pada obat bukanlah menunjukkan kesehatan kita membaik sebaliknya adalah indikasi kemerosotan kesehatan kita. Begitu pun sekolah. Sekolah menghisap masyarakat kepada dirinya sehingga tanpa sadar masyarakat mengalami ketergantungan pada sekolah, segala urusan pendidikan dengan sendirinya berarti persekolahan. Implikasinya orang tua pun melupakan relasi keluarga di rumah sebagai suatu pendidikan. Masyarakat amnesia akan perannya dalam pendidikan.

Mengenai hal ini dengan jelas diungkapkan oleh Roem[8]:

“Sekolah memang telah terinternalisasi sedemikian rupa dalam seluruh bagian keseharian kita, melalui suatu proses sejarah yang panjang dan lama, yang sedemikian berpengaruh terhadap kehidupan perseorang dan perkauman kita, menjadi suatu macam imperatif budaya, semacam gejala ‘ketaksadaran kolektif’, sehingga setiap orang merasa kehilangan suatu yang teramat berharga bagi diri dan hidupnya, kehilangan peluang dan hak, jika gagal atau terputus di tengah jalan dalam mencapai suatu tingkatan sekolah tertentu. Apalagi, kalau lembaga sekolah itu sendiri yang terang-terangan menyatakan menolak, menampik dan menyisihkannya. Orang itu akan merasa terpaksa dan dipaksa menerima dua kenyataan pahit sekaligus: masyarakat akan mencapnya gagal dan, lama kelamaan, dia sendiri pun akan merasa dirinya memang telah benar-benar gagal dan sia-sia!”[9]

Nah, kalau sudah begini namun tetap saja sekolah diagung-agungkan bukankah tepat kita mengiyakan seruan Roem: Sekolah itu Candu?

Apakah tidak ada yang melek akan hal ini? Tidak sedikit melihat dan meresahkan keadaan ini. Namun tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang menaruh tanggung jawab untuk melepaskan masyarakat dari hegemoni persekolahan malah terjebak pada persekolahan itu sendiri. Tidak sedikit yang kecewa pada lembaga persekolahan di Indonesia, namun tindakan yang dilakukannya malah mendirikan sekolah yang secara mendasar masih memposisikan persekolahan lembaga monopoli pendidikan. Lihat saja sekolah-sekolah yang baru didirikan. Sekolah-sekolah ini malah mengisolasi siswa dari kehidupan nyata, masyarakat dan keluarga melalui program asrama, beban belajar yang tinggi dan berbagai kerumitan-kerumitan yang dianggap sebagai pendidikan. Sekolah ini sama saja, membuat siswa dan orang tua (masyarakat) mengalami ketergantungan pada sekolah. Sehingga siswa kehilangan tanggung jawab pribadi akan inisiatif belajar. Roem menyebutnya sebagai Involusi Sekolah (perkembangan yang pada dasarnya tidak ada perubahan). Sementara Illich menamainya sebagai Konsistensi Irrasional.

 

Lalu adakah jalan keluar? Tentu ada. Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak harus dibubarkan hanya saja memang harus dilucuti. Sekolah harus dilucuti dari kemampanannya, dari hegemoninya, dan dari monopolinya akan pendidikan.

Sekolah, bukanlah dan tak boleh menjadi ‘menara gading’, kata filsuf Spanyol, Ortega  Gasset.[10]  Untuk itu sekolah tidak boleh memposisikan diri sebagai lembaga pendidikan satu-satunya—tidak boleh menjadi satu-satunya tempat belajar. Untuk itu sekolah tidak boleh memonopoli waktu siswa hanya di sekolah. Siswa haruslah di dorong untuk hadir di lingkungannya. Dengan demikian sekolah-sekolah yang menerapkan waktu bersekolah dari pagi hingga petang menjelang malam dengan tugas-tugas yang menumpuk, hingga tidak ada lagi waktu siswa untuk bermain dan menikmati diri, tidak lagi sesuai. Yang seperti ini bagi Gene  Bylinsky[11], sekolah, mestinya seperti suatu oasis—tempat teduh dan sumber air di tengah padang pasir kerontang, tempat melepas lelah dan dahaga.

Sekolah harus mengandung unsur kebenaran paradoks: ‘mengikat’ untuk membebaskan,  ini menegaskan bahwa setiap orang tidak harus bersekolah tetapi membutuhkan sekolah.

Melucuti sekolah juga berarti ‘mempersenjatai’ masyarakat dan keluarga. Gerakan pendidikan keluarga harus sesuatu yang penting. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi waktu bagi keluarga dengan mengurangi jam kerja, beban dan jam sekolah. Sarana-prasarana edukasi dapat diciptakan dalam masyarakat seperti rumah-rumah buku, rumah singgah, taman-taman kota, aktivitas budaya dan kegiatan edukatif lainnya.

Sehingga kelak Ki Hajar Dewantara akan tersenyum karena konsepnya akan sekolah sebagai “taman” sedang berada dijalur yang tepat.

 


[1] Kasus Alifah siswa SD di Surabaya yang dikucilkan di tempat tinggalnya

[2] Eko Prasetyo, “Orang Miskin dilarang Sekolah”, (Yogyakarta: Resist Book, 2004)

[3] John Holt, “Mengapa Siswa Gagal”, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010)

[4] Paulo Freire, “Pendidikan Kaum Tertindas” Cet VII (Jakarta: LP3ES, 2011)

[5] Everett Reimer, “Matinya Sekolah”, (Yogyakarta: Hanindita, 2000)

[6] Ivan Illich, “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah”, (Jakarta: YOI, 2000)

[7] Ibid, hal 62

[8] Roem Topatimasang, “Sekolah itu Candu”, Cet XIII (Yogyakarta: InsistPress, 2013)

[9] Roem, Hal 94

[10] Jose Ortega y Gasset, “Mission of the University” (dalam Roem Topatimasang: Sekolah itu Candu)

[11] Gene Bylinsky, seorang pewarta lepas. (dalam Roem Topatimasang: Sekolah itu Candu)

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s