Yap Thiam Hien, Sang Pendekar Keadilan

Oleh: Christian Dior*

 Mencari Kebenaran, Bukan Kemenangan!

Kata-kata inilah yang selalu dipegang teguh oleh seorang advokat pembela Hak Asasi Manusia (HAM), Yap Thiam Hien yang biasa disapa dengan panggilan “Yap”. Yap Thiam Hien merupakan advokat keturunan Tiong Hoa yang selalu siap membela siapa pun yang hak-haknya dicabik-cabik, dari rakyat kecil yang rumahnya tergusur sampai tokoh Partai Komunis Indonesia. Yap Thiam Hien yang memulai karirnya sebagai pengacara pada tahun 1949, tidak pernah memandang bulu dalam membela siapapun yang datang kepadanya. Hingga akhirnya dia dijuluki sebagai “Pembela Segala Umat” dan namanya juga diabadikan melalui penghargaan “Yap Thiam Hien Award”, yaitu sebuah penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dinilai berjasa dalam memperjuangkan HAM di Indonesia.

Saya yang mengagumi sosok Beliau, tersentak diam ketika membaca perjuangan Beliau membela orang-orang tertindas di dalam buku yang berjudul Yap Thiam Hien 100 Tahun Sang Pendekar Keadilan. Salah satu hal yang membuat saya kagum kepada Beliau adalah “perbuatan Beliau yang menggratiskan biaya kliennya yang terbelit kasus pidana. Mereka antara lain orang miskin kota yang diduga menjadi korban rekayasa aparat hukum. Beliau membela mereka karena kecintaannya membela HAM”. Beliau juga kerap menyampaikan wejangan kepada kliennya: “Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah, tetapi jika Saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara”. Hal ini juga diindahkan oleh Adnan Buyung Nasution yang merupakan teman dekat Beliau yang mengatakan “Yap memang sering kalah di pengadilan, sebab dia membela bukan untuk menang, melainkan untuk membela kemanusiaan”. Bahkan, dalam mengenakan fee atas jasa pengacaranya, Beliau mengenakan tarif yang disodorkan jauh lebih murah ketimbang tarif kantor pengacara lain, contohnya ketika kantor pengacara lain mengenakan tarif Rp 40 juta per klien, biaya yang dikutip Beliau hanya Rp 5-10 juta.

Sosok pengacara seperti inilah yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia dalam membela kemanusiaan. Kita berharap saat ini muncul kembali sosok seperti Yap Thiam Hien dalam dunia advokat. Banyak pengacara di Indonesia yang memperjuangkan kepentingan kliennya, tetapi sampai sekarang ini, sulit menemukan sosok pengacara seperti Yap Thiam Hien yang memiliki idealisme dan integritas tinggi.

Sampai saat ini kiprah Yap Thiam Hien dijadikan panutan oleh beberapa pengacara kondang, seperti Adnan Buyung Nasution, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Luhut M.P Pangaribuan, Todung Mulya Lubis, Frans Hendra Winarta, Juniver Girsang, dan lain sebagainya. Tetapi sayangnya, bagi para advokat generasi muda, kiprah Yap Thiam Hien kurang dijadikan panutan. Dalam tulisan Zainal Arifin Mochtar yang berjudul Hidup Matinya Yap Thiam Hien diutarakan bahwa dalam sebuah training kandidat pengacara yang hampir dipenuhi oleh calon pengacara muda, tidak ada satu pun yang mampu menjawab dengan detail ketika ditanya soal nama Yap Thiam Hien. Padahal seharusnya para pengacara muda inilah yang harus meneruskan kiprah Yap Thiam Hien nantinya di dunia hukum, tetapi sangat miris bagi kita ketika mendengar berita bahwa pengacara muda tidak mengenal sosok Yap Thiam Hien.

Berbanding terbalik dengan sosok Yap Thiam Hien, beberapa pengacara saat ini sepertinya mempunyai motto “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan membebaskan kliennya dari jerat hukum”. Intinya, “Klien harus bebas!”. Betapa tidak, dikarenakan motto ini, sering sekali pengacara menjadi penyumbang besar proses koruptif, sebagaimana yang dilansir oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) beberapa pengacara tersebut seperti Haposan Hutagalung, Lambertus Palang Ama, Tengku Syaifuddin Popon, Harini Wijoso, Adner Sirait, dan Mario C Bernardo. Mungkin menurut beberapa pengacara seperti ini, suap dan mengatur perkara adalah jalan yang paling cepat dan tepat yang dirasa bagi pengacara untuk menyelesaikan keinginan klien, meskipun cara itu tidak taat pada aturan hukum.

Yap Thiam Hien hidup di saat belum ada kewajiban bagi para advokat untuk melakukan pendampingan pro bono (membela tersangka dengan cuma-cuma), tetapi hampir semua kasus yang dia tangani adalah kasus besar dengan model yang nyaris pro bono. Menurut Yap Thiam Hien, “uang adalah tujuan yang tak dikedepankan dan karenanya tak kunjung datang, tetapi pendirian membuatnya bertahan”. Pada saat ini, coba bandingkan dengan gaya pengacara sekarang yang penuh tren gaya hedonistis. Hal inilah yang dipertunjukkan dengan gagah seakan-akan inilah makna hidup panutan yang harus dituju sebagai pangacara dan mungkin menurut para pengacara sekarang, cara seperti inilah yang harus dilakukan untuk mendapatkan klien yang mempunyai banyak duit. Bahkan, sekarang ini uang menjadi incaran yang dibungkus dengan kata-kata ingin menegakkan hukum. Tentunya hal ini agak mustahil ketika dilakukan secara pro bono.

Inilah yang menjadi tantangan bagi mahasiswa fakultas hukum yang kelak mempunyai cita-cita menjadi seorang pengacara. Mahasiswa yang merupakan agen perubahan (agent of change) harus bisa menjawab tantangan yang ada sekarang ini, jangan sampai ketika mahasiwa fakultas hukum ini sudah menjadi seorang pengacara malah melakukan tindakan yang sama, yaitu “menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan membebaskan kliennya dari jerat hukum”. Negara Indonesia mempunyai harapan besar bagi para mahasiswa untuk mengubah negara ini menjadi baik. Jadi, ketika kelak sudah mencapai cita-cita yang diinginkan, jangan sampai harapan yang sudah diberikan kepada para mahasiswa buyar begitu saja seperti ditiup angin sehingga membuat Indonesia kembali menangis dan kembali bertanya “sampai kapan Indonesia memiliki mahasiswa yang benar-benar sebagai agen perubahan bangsa?” Mahasiswa sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi masyarakat serta merupakan aset besar bangsa dimasa depan harus memiliki idealisme dan integritas tinggi untuk mengubah bangsa ini, terkhususnya bagi mahasiswa calon pengacara dapat belajar dari sosok Yap Thiam Hien untuk mengubah dunia advokat menjadi baik.

Selain yang ada di atas, bagi para mahasiswa calon pengacara masih banyak pelajaran yang didapat dari sosok Yap Thiam Hien, seperti:

Tidak Memilih-milih dalam Pembelaannya

Beliau yang dikenal sebagai pengkritik komunisme, memillih membela para tersangka kasus politik, seperti Soebandrio, Mantan Wakil Perdana Menteri Kabinet Dwikora I, Kepala Badan Pusat Intelijen, dan Menteri Luar Negeri Kabinet Djuanda yang dituduh terlibat penculikan sejumlah jenderal pada 30 September 1965.

Pada saat itu, Soebandrio dijadikan musuh bersama oleh masyarakat. Pamflet-pamflet disebar dan berbagai unjuk rasa digelar untuk menghujatnya, bahkan pers pun menyudutkan Soebandrio. Karena kebencian masyarakat terhadap dirinya, pada saat Mayor Soewarno, orang yang ditunjuk untuk mencari pengacara buat Soebandrio pun pontang panting mencari pengacara buat Soebandrio. Mayor Soewarno telah menemui beberapa pengacara, tetapi tidak ada satu pun yang bersedia karena tidak mau berurusan dengan musuh masyarakat. Hingga akhirnya, salah satu pengacara yang ditemui oleh Mayor Soewarno menyarankan untuk menemui Yap Thiam Hien.

Kebencian masyarakat terhadap Soebandrio juga membuat khawatir keluarga Yap Thiam Hien, jika Yap Thiam Hien mendampingi Soebandrio. Istri Yap Thiam Hien, Tan Gien Khing Nio, sempat menentang suaminya itu apabila membela Soebandrio karena akan memancing kemarahan masyarakat terhadap keluarga mereka, tetapi karena ketegaran dan idealisme dirinya membela siapapun, akhirnya Yap Thiam Hien menerima tawaran untuk membela Soebandrio dalam perkara yang dituduhkan kepadanya.


Berani Membela Kebenaran

Karena keberaniannya membela kebenaran sampai membuat Beliau harus berada di jeruji besi.

Hal ini bermula ketika Beliau menangani perkara atas dugaan penipuan yang dituduhkan kepada kliennya, Tjan Hong Liang. Tjan Hong Liang dituduh menipu Lies Gunarsih yang merupakan rekan bisnis Tjan Hong Liang. Lies Gunarsih dengan bantuan seorang Jaksa, B.R.M. Simanjuntak dan seorang Polisi, Inspektur Jenderal Mardjaman membuat jebakan untuk menjerat Tjan Hong Liang atas dugaan penipuan.

Pada saat perkara dimulai, Tjan Hong Liang mendatangani kantor Yap Thiam Hien untuk membelanya. Kubu lawan yang diwakili oleh Mardjaman sempat mengajukan perdamaian kepada Tjan Hong Liang dengan opsi pemusnahan dokumen perjanjian yang dijadikan dasar oleh Lies Gunarsih menuntut Tjan Hong Liang. Karena Lies Gunarsih dirasa benar oleh Yap Thiam Hien, atas saran Yap Thiam Hien perdamaian tersebut ditolak dan Yap Thiam Hien menjadikan dokumen perjanjian perdamaian tersebut menjadi bukti pemerasan.

Karena keberaniaannya membela kebenaran, pada saat persidangan, Yap Thiam Hien memunculkan pertanyaan kepada saksi Inspektur Jenderal Mardjaman, “Apakah Bapak Polisi ini membela Ibu Lies ini karena pernah tidur bersama? Jawab iya atau tidak. Pada saat itu, Mardjaman mendadak marah kepada Yap Thiam Hien. Pertanyaan inilah awal mulanya membuat Beliau masuk ke dalam jeruji besi. Sekelompok polisi datang mengepung rumah Yap Thiam Hien dan menangkapnya dengan alasan seperti mengada-ada, yakni “Yap Thiam Hien dituduh terlibat insiden G 30 S PKI. Padahal, kasus itu mungkin pelampiasan kemarahan Inspektur Jenderal Mardjaman yang dicecar Yap Thiam Hien dalam persidangan.

Teguh Membela Terdakwa Anticina

Beliau pernah membela terdakwa yang anti terhadap suku/ras yang dia miliki. Terdakwa itu adalah Rachmat Basoeki. Kasus Rachmat Basoeki tergolong berat. Dia didakwa terlibat dalam kasus peledakan kantor cabang BCA pada tanggal 4 Oktober 1984. Dua korban tewas dan sedikitnya empat orang lainnya terluka akibat rentetan pengeboman yang terjadi pada saat itu.

Pada saat itu Basoeki memang dikenal anticina. Alasannya meledakkan kantor BCA karena dianggapnya sebagai simbol kekuasaan bangsa Cina terhadap perekonomian Indonesia. Di sinilah kasus Basoeki menjadi menarik ketika Yap Thiam Hien, pengacara Basoeki merupakan keturunan Tionghoa.

Kehadiran Yap Thiam Hien yang non muslim semula ditolak para terdakwa kasus peledakan BCA. Mereka berharap dibela oleh para ustad. Namun akhirnya mereka menerima Yap Thiam Hien setelah diyakini Lembaga Bantuan Hukum, yang memang mengurus pembelaan kasus ini. Ketika ditanya mengapa membela terdakwa tersebut yang anticina, Yap Thiam Hien menjawab “Ada kepentingan luas di balik kasus tersebut. Kami ingin memastikan bahwa orang yang telah mengakui perbuatannya diberikan hak penuh di pengadilan. Hal umum inlah yang kami, para pengacara, perjuangkan untuk kepentingan yang lebih luas”.

Selesai persidangan Rachmat Basoeki, Profesionalitas Yap Thiam Hien diakui oleh Istri Basoeki dengan mengatakan “Meskipun suaminya dikenal anticina, Yap Thiam Hien sama sekali tidak mengendurkan semangat dalam pembelaannya dan Yap Thiam Hien sama sekali tidak menunjukkan rasa benci kepada Bapak (Basoeki)”. Bahkan sebelum Basoeki meninggal dunia, Basoeki pernah menuliskan mengenai “Memahami Hoakiau”, mengatakan “tak semua keturunan Tionghoa merugikan, salah satunya Yap Thiam Hien yang berani menegakkan keadilan hukum di Indonesia”.

Semoga beberapa cerita mengenai sosok dan kiprah dari Yap Thiam Hien ini dapat dijadikan inspirasi bagi mahasiswa calon pengacara, agar kelak di kemudian hari ditemukan pengacara yang dapat menggantikan sosok Yap Thiam Hien, Sang Pendekar Keadilan.

“Mengabaikan ketidakadilan dalam bentuk apa pun sesungguhnya adalah perbuatan melanggar dan penuh dosa” (Yap Thiam Hien).


*Christian Dior adalah aktivis mahasiswa dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s