Pernalaran dalam Perkalimatan

Walaupun bukan ahli bahasa, saya selalu tertarik untuk berdiskusi mengenai bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Sebagai matematikawan, saya melihat banyak masalah dalam berbahasa, khususnya yang berkaitan dengan pernalaran dalam perkalimatan, yang menarik untuk dibahas.

Beberapa tahun silam, misalnya, terpampang sebuah spanduk bertuliskan kalimat berikut (yang merupakan himbauan dari sebuah rumah sakit di Bandung):

“Tidak merokok itu sehat.”

Dari segi tata bahasa, kalimat ini mungkin merupakan kalimat yang baik dan benar. Anda mungkin berpikir tidak ada yang salah dengan kalimat ini. Namun, bukan tata bahasanya yang kita bicarakan sekarang, tetapi pernalarannya atau nilai kebenaran dari pesan yang disampaikan oleh kalimat tersebut.

Bila ada yang mengatakan bahwa “Merokok itu sehat”, maka ia salah. Yang benar adalah kebalikannya. Mungkin itu yang ada di benak penyusun kalimat di atas. Tetapi, tunggu dulu, apa negasi dari “Merokok itu sehat”? Subyeknya di sini adalah “merokok”, sedangkan predikatnya adalah “sehat”. Bila kita ingin menyangkal kalimat sederhana seperti ini, maka yang kita sangkal seharusnya adalah predikatnya, bukan subyeknya. Jadi, kebalikan dari “Merokok itu sehat” adalah

“Merokok itu tidak sehat.”

Menurut pernalaran sederhana, jika “Merokok itu sehat” salah, maka negasinya “Merokok itu tidak sehat” haruslah benar.

Lalu bagaimana dengan “Tidak merokok itu sehat”? Seseorang yang tidak merokok, tetapi minum alkohol, sehatkah?

Belakangan ini, saya menjumpai kalimat berikut (yang merupakan himbauan dari Depsos kepada para pengendara di dekat sebuah perempatan di Bandung):

“Akan lebih bijak jika sumbangan anda disalurkan melalui lembaga sosial lainnya, bukan diberikan kepada anak jalanan.”

Membaca kalimat ini, saya merasa ada sesuatu yang salah. Dengan menggunakan kata “lainnya”, si pembuat kalimat ini secara tidak sadar telah menempatkan anak jalanan sebagai suatu lembaga sosial.

Sebagai pembanding, perhatikan dua kalimat berikut:

“Jangan makan di restoran. Makan di rumah saja.”

“Lewat jalan lainnya, bukan jalan itu.”

Pada kalimat pertama, kita tidak menambahkan kata “lainnya” setelah kata “restoran”, karena restoran tidak sama dengan rumah (sekalipun kita menyebutnya “rumah makan”). Namun, pada kalimat kedua, kata “lainnya” memang diperlukan, karena kita berbicara tentang dua obyek yang sama, yaitu jalan.

Dengan argumentasi ini, kalimat himbauan Depsos di atas seharusnya berbunyi:

“Akan lebih bijak jika sumbangan anda disalurkan melalui lembaga sosial, bukan diberikan kepada anak jalanan.”

Kembali ke kalimat “Merokok itu tidak sehat”, saya yang bukan ahli bahasa ingin bertanya kepada mereka yang ahli, apa peran kata “itu” di sini? Jelas bukan penunjuk (atau penentu) subyek tertentu seperti dalam kalimat

“Anak itu pintar.”

Dalam kalimat ini, bukan sembarang anak yang pintar, tetapi seorang anak (tertentu).

Coba bandingkan dua kalimat berikut:

“Ayam bertelur.”

“Ayam itu bertelur.”

Kalimat pertama menyatakan bahwa ayam (pada hakekatnya) bertelur, bukan beranak. Dalam kalimat kedua, kita membaca bahwa ada seekor ayam yang sedang bertelur. Kata “itu” dalam kalimat kedua berperan sebagai penunjuk subyek tertentu.

Apakah kata “itu” juga berperan sebagai penunjuk subyek tertentu dalam kalimat “Merokok itu tidak sehat”? Merokok yang mana?

Dapatkah kita menulis

“Merokok tidak sehat”

tanpa kata “itu”? Kok seperti ada yang kurang ya?

H. Gunawan, 08-07-2008

Advertisements

8 Comments

  1. Salut buat Prof yang matematikawan tapi punya kepedulian terhadap bahasa Indonesia, saya pribadi yang sering berhubungan dengan tulis menulis sesuai tugas kadang2 kebingungan, tapi memang kalau kita perhatikan bahasa-bahasa himbauan tidak pernah dikonsultasikan dengan ahli bahasa, sehingga saya kalau menyusun dokumen suka melibatkan guru bahasa indonesia yng kebetulan ada di bappeda, yang paling para adalah himbauan tentang visit indonesia year 2008, katanya juga salah, nah kalau udah gitu dimana peran para pakar bahasa indonesia?

    Ok Prof; aku mau tanya nih, anaku matematikanya pas-pasan, tolong dong aku kasih tip gimana caranya untuk memahami matematik secara mudah.

    thanks ya, diantos pisan.

  2. Wah.. blog ini kalau bisa tidak dipakai untuk diskusi matematika.
    Tapi karena sudah ditanya, saya jawab sedikit saja ya.. Setiap anak
    mempunyai kecerdasan masing-masing. Kalau pas-pasan dalam
    matematika, bukan mustahil ia mempunyai kecerdasan lainnya,
    misalnya dalam seni atau bahasa atau olahraga.. Jadi menurut
    saya jangan dipaksakan harus bisa matematika. Memang sebaiknya
    anak tidak buta sama sekali dalam matematika, karena kehidupan di
    sekitar kita penuh dengan produk sains dan teknologi, yang sedikit
    banyak memakai bahasa matematika. Sebelum memahami matematika,
    apresiasinya terhadap matematika perlu ditumbuhkan. Setidaknya
    jangan alergi dulu terhadap matematika.. Eh koq jadi kepanjangan
    jawabannya. Cukup lah ya?

    /HG

  3. Hallo Pak Hendra,memberanikan diri untuk memberikan komentar,begini barangkali ya,langsung ke pertanyaan ya,peran kata “itu” pada kalimat”merokok itu tidak sehat”adalah mewakili” semua yang merokok” jadi lebih kepada personnya,untuk lebih lengkapnya,semua yang merokok dalam arti” siapapun dia”,tidak sehat…hatur nuhun

    1. Mbak Hidayati.. salam kenal. Komentarnya menarik, kalau dipikir-pikir lagi, bahasa Indonesia itu kaya ya.. Pemakaian kata “itu” saja sudah begitu beragam, belum yg lain.. Misal kata “pakai” (“pakai sepatu”, “pakai gula”, dan “pake becanda”). Juga akhiran kata “an” seperti pada kata “berapaan?” Mangga diteruskan.. /HG

  4. Wah,Pak Hendra ,saya jadi tersanjung,saya gunakan kata hallo pada berita saya diatas berarti kita sudah kenal dong pak,yang akan saya komentari kata”pake becanda”,sorry milih nih,itu jelas logat betawi alias jakarte punye,biasanya orang menggunakan tambahan kata “lagi” didepannya sehingga menjadi …pake becanda lagi…nah seru kan…kalimat seperti ini biasanya digunakan untuk mempererat tali percakapan atau bagi yang belum kenal betul…udahan ya saya khawatir ngelunjak nih…arigato …

  5. Prof Hendra ybk, baru kali ini saya masuk blog Anda, dan salut deh … seorang matematikawan begitu memperhatikan persoalan dari sudut bahasanya. Memang anak saya, yang sekarang menjadi mahasiswa Anda pernah cerita soal UTSnya yang katanya sebetulnya bisa, tapi terkendala cara pemaparan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar… dan saat itu saya sempat bengong, lho matematika koq jadi Bahasa Indonesia, he he he … Tapi setelah baca naskah ini, saya mengerti … Saya juga lama mengasuh majalah Gereja, dan otomatis jadi belajar juga bagaimana caranya berbahasa yang baik dan benar. Tentu saja sampai saat ini, cita-cita untuk berbahasa yang baik dan benar masih belum tercapai, tapi terus diusahakan. Sayang ya, kalau di sekolah-sekolah lanjutan, hal seperti ini tidak pernah diperhatikan, malahan pihak sekolah pun kalau mengirimkan surat kepada orang tua, seringkali tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mari kita cintai bahasa Indonesia yang memang kaya ini, maju terus Prof … +

    1. Terima kasih Bu Cynthia atas komentarnya. Matematika sendiri termasuk bahasa Bu.. jadi aneh kalau jago matematika tapi tidak bisa mengungkapkannya.. Salam, HG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s