Search

H Gunawan's Blog

Not just another blog

50 Perguruan Tinggi RI Paling Produktif dalam Penelitian Menurut Scopus – 1 Agustus 2016

Bila Anda penasaran perguruan tinggi mana saja di Indonesia yang paling produktif dalam mengembangkan dan mendiseminasikan ilmu pengetahuan, tengok daftar di bawah ini:

http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/files/2015/01/50-Perguruan-Tinggi-Indonesia-di-Scopus-1-Agustus-2016.pdf

H. Gunawan, 01-08-2016

Tripel Pythagoras

Tripel Pythagoras adalah tripel bilangan bulat positif a, b, dan c yang memenuhi persamaan a^2 + b^2 = c^2. Contoh tripel Pythagoras yang paling sederhana adalah 3, 4, dan 5, atau 5, 12, dan 13, sebagaimana sering dibahas di SD dan SLTP. Pythagoras adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani kuno yang lahir sekitar tahun 580 SM. Ada berapa banyak sih tripel Pythagoras itu? Baca selengkapnya di sini.
*
H. Gunawan, 11-4-2016

31 Matematikawan Indonesia Paling Produktif dalam Riset

Berikut adalah 31 matematikawan (yang berafiliasi di) Indonesia dengan jumlah publikasi terbanyak (min. 10), sebagaimana tercatat di Mathematical Reviews (http://www.ams.org/mathscinet) pada 2 Juni 2014 –> 24 Desember 2014 –> 3 Juli 2015 –> 25 Februari 2016.

Angka pertama = jumlah publikasi, angka kedua = jumlah publikasi sbg penulis pertama, angka ketiga = jumlah publikasi sbg penulis tunggal, dan angka keempat = jumlah total sitasi. Urutan berdasarkan angka pertama, angka kedua, angka keeempat, dan angka ketiga, menggunakan data 25 Februari 2016.

1. Edy T. Baskoro (ITB, Bandung, Kombinatorika), 104/23/0/169 –> 105/23/0/181 –> 108/23/0/186 –> 113/24/0/206

2. Hendra Gunawan (ITB, Bandung, Analisis), 46/28/14/135 –> 48/28/14/171 –> 49/28/14/176 –> 52/29/14/196

3. M. Salman (ITB, Bandung, Kombinatorika), 42/12/0/56 –> 42/12/0/61 –> 42/12/0/67 –> 44/12/0/76

4. Edy Soewono (ITB, Bandung, Matematika Terapan), 27/7/1/23 –> 31/7/1/24 –> 32/7/1/29 –> 36/7/1/31

5. Kiki A. Sugeng (UI, Depok, Kombinatorika), 32/14/0/32 –> 32/14/0/36 –> 32/14/0/40 –> 34/14/0/42

6. Rinovia Simanjuntak (ITB, Bandung, Kombinatorika), 31/1/0/59 –> 31/1/0/68 –> 31/1/0/76 –> 33/2/0/90

7. Slamin (Unej, Jember, Kombinatorika), 31/4/0/150 –> 31/4/0/162 –> 32/4/0/169 –> 32/4/0/173

8. Hilda Assiyatun (ITB, Bandung, Kombinatorika), 25/4/1/17 –> 25/4/1/17 –> 25/4/1/18 –> 28/4/1/21

9. Mawardi Bahri (Unhas, Makassar, Analisis), 23/21/9/18 –> 27/25/9/24 –> 27/25/9/25 –> 27/25/9/31

10. Saladin Uttunggadewa (ITB, Bandung, Kombinatorika), 20/0/0/2 –> 21/0/0/3 –> 21/0/0/4 –> 24/0/0/4

11. Pudji Astuti (ITB, Bandung, Aljabar), 17/10/1/10 –> 18/11/1/12 –> 19/12/1/16 –> 21/14/0/20

12. Sutawanir Darwis (ITB, Bandung, Statistika), 17/9/2/0 –> 17/9/2/0 –> 18/9/2/0 –> 18/9/2/0

13. Agus Y. Gunawan (ITB, Bandung, Matematika Terapan), 15/4/0/1 –> 16/4/0/1 –> 17/4/0/1 –> 18/4/0/1

14. S.M. Nababan+ (ITB, Bandung, Matematika Terapan), 17/11/3/8 –> 17/11/3/8 –> 17/11/3/10 –> 17/11/3/11

15. Intan Muchtadi-Alamsyah (ITB, Bandung, Aljabar), 14/4/2/1 –> 15/4/2/3 –> 15/4/2/3 –> 17/4/2/4

16. Sri R. Pudjaprasetya (ITB, Bandung, Matematika Terapan), 10/5/0/15 –> 12/6/0/17 –> 13/7/0/17 –> 16/7/0/19

17. I Wayan Sudarsana (Untad, Palu, Kombinatorika), 14/12/1/9 –> 15/13/1/9 –> 15/13/1/9 –>  16/4/1/9

18. A.A. Gede Ngurah (Unmer, Malang, Kombinatorika), 15/12/1/24 –> 15/12/1/29 –> 15/12/1/29 –> 15/12/1/33

19. Leo H. Wiryanto (ITB, Bandung, Matematika Terapan), 13/12/7/7 –> 14/12/7/8 –> 14/12/7/8 –> 15/12/7/8

20. Djoko Suprijanto (ITB, Bandung, Kombinatorika), 10/2/2/9 –> 13/5/2/9 –> 14/5/2/9 –> 15/5/2/10

21. Andonowati (ITB, Bandung, Matematika Terapan), 15/3/2/11 –> 15/3/2/11 –> 15/3/2/11 –> 15/3/2/13

22. Indah E. Wijayanti (UGM, Yogyakarta, Aljabar), 10/3/2/7 –> 11/3/2/8 –> 12/3/2/9 –> 15/3/2/9

23. I Wayan Mangku (IPB, Bogor, Statistika), 14/4/2/15 –> 14/4/2/15 –> 14/4/2/15 –> 14/4/2/16

24. Irawati (ITB, Bandung, Aljabar), 12/4/3/0 –> 12/4/3/0 –> 12/4/3/0 –> 14/4/3/0

25. Widodo (UGM, Yogyakarta, Matematika Terapan) x/x/x/x –> x/x/x/x –> x/x/x/x –> 13/3/3/3

26. Johan M. Tuwankotta (ITB, Bandung, Analisis), 11/9/3/6 –> 11/9/3/6 –> 11/9/3/6 –> 12/10/3/7

27. Ch. Rini Indrati (UGM, Yogyalarta, Analisis), x/x/x/x –> x/x/x/x –> x/x/x/x –> 11/5/2/0

28. Eridani (Unair, Surabaya, Analisis), x/x/x/x –> 10/8/1/48 –> 10/8/1/49 –> 10/8/1/51

29. Surahmat (Unisma, Malang, Kombinatorika), 10/6/0/27 –> 10/6/0/30 –> 10/6/0/33 –> 10/6/0/40

30. Supama (UGM, Yogyakarta, Analisis), x/x/x/x —> x/x/x/x –> x/x/x/x –> 10/6/6/0

31. Subanar (UGM, Yogyakarta, Statistika), x/x/x/x –> x/x/x/x –> x/x/x/x –> 10/2/2/0

Total RI: 31 Jul 2015 = 598; 25 Feb 2016 = 712 (ITB = 168, UGM = 71, UI = 34)

Catatan: Tentunya ada matematikawan asal Indonesia yang berafiliasi di luar negeri, dengan jumlah publikasi yang banyak. Nama-nama mereka, sebagian di antaranya, dapat dijumpai di http://indonesia2045.wordpress.com/sosok-panutan-dalam-pengembangan-ilmu-pengetahuan/

Anda dapat melacak silsilah matematikawan Indonesia dan dunia di sini: Math Genealogy.

Posting yang sama diunggah di http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/

H. Gunawan, 26-02-2016

Jejak Alumni ITB

Pada acara halal bihalal 2015 yang lalu, saya duduk bersebelahan dengan seorang dosen senior (pensiunan) mantan pejabat penting ITB, dan kami pun ngobrol tentang kiprah alumni ITB.

Beliau senang banyak alumni ITB yang berhasil menduduki posisi atau jabatan penting di berbagai perusahaan atau pemerintahan, di luar bidang yang mereka tekuni ketika kuliah di ITB. Saya amini fakta tersebut, tetapi saya sampaikan bahwa ada satu hal yang hingga saat ini ITB belum bisa berbangga, yaitu memiliki alumni yang menjadi ilmuwan atau teknolog terkenal di dunia, dalam bidang yang mereka tekuni sejak di ITB. Kalaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari, dan kontribusinya belum seberapa. Beliau pun mengangguk setuju.

Mungkin ITB belum “cukup tua” untuk menghasilkan alumni hebat skala dunia. Tetapi apakah ITB punya keinginan ke sana? Saya tidak melihat hal itu saat ini.

H. Gunawan, 01-08-2015

Does the System Work?

Pada suatu waktu, di tahun 2012, saya mengikuti konferensi matematika di Pulau Jeju, Korea Selatan. Ini merupakan kunjungan pertama saya ke negeri ginseng. Perjalanan ke sana dengan Korean Air cukup lancar. Ada saat mendebarkan ketika pesawat hendak mendarat di Bandara Jeju, angin demikian kencang, sehingga pesawat goyang dan sang pilot akhirnya memutuskan untuk naik terbang lagi. Pada upaya kedua, pendaratan berhasil dilakukan dengan baik, walau angin masih terasa menggoyang badan pesawat.

Konferensi diselenggarakan di Universitas Jeju, yang cukup jauh dari keramaian. Yang hendak saya ceritakan bukan perihal konferensi tersebut, tetapi tentang sesuatu yang menurut saya dapat menjadi cermin bagi banyak sistem di negara kita. Ceritanya begini. Setelah konferensi rampung, makan malam terakhir pun usai, kami pulang ke wisma universitas. Saya menghampiri Ketua Panitia untuk meminta bantuan ybs memesankan taksi untuk membawa saya esok paginya ke bandara.

Pesawat yang akan saya tumpangi terbang pukul 06.00 pagi, karena itu saya harus sudah berada di bandara pada pukul 05.00 pagi. Penerbangan ini adalah penerbangan domestik dari Pulau Jeju ke Seoul; penerbangan selanjutnya dari Seoul ke Jakarta dijadwalkan pada pukul 09.30 (kalau tidak salah). Singkat kata, saya tidak boleh ketinggalan pesawat dari Pulau Jeju ke Seoul. Karena itu, saya tidak boleh tidak mendapat taksi pada pagi hari tersebut.

Ketua Panitia Konferensi, Pak Han namanya, bertanya: “jam berapa besok pesawatnya terbang?” Saya bilang jam 06.00. Lalu dia bilang, “kalau begitu bangunkan saya jam 04.45, lalu saya akan telepon pool taksi. Dari kampus ke bandara hanya butuh 10 menit.” Saya protes, “terlalu mepet!” Bagaimana kalau taksinya tidak datang? Pak Han dengan kalem berkata: “Don’t worry. OUR SYSTEM WORKS. The taxi will come in 5 minutes.”

Setelah mencoba kedua kalinya meminta Pak Han untuk menelepon pool taksi malam itu juga, agar lebih bisa dipastikan bahwa saya akan mendapat taksi esok paginya, dia tetap meyakinkan saya untuk tidak usah risau, dan mengingatkan saya untuk membangunkan dia pada pukul 04.45. Akhirnya saya pasrah dan masuk ke kamar, mengepak barang-barang saya, dan tidur (dengan tidak nyenyak).

Esok paginya saya bangun pada pukul 04.00, mandi, mengepak lagi barang-barang saya ke dalam kopor, lalu mendatangi kamar Pak Han dan mengetuk pintunya. Dia pun bangun dan menelepon pool taksi, lalu katanya: “the taxi will come soon.” Dan tak lama kemudian taksinya datang, betapa melegakan. Saya pun pamit, dan tiba di bandara agak kepagian, sebelum counter check-in buka!

Cerita ini beberapa kali saya share dengan teman-teman, khususnya ketika kami ngobrol tentang berbagai persoalan yang dihadapi, entah itu tentang sistem pendidikan, sistem kepegawaian nasional (PNS), sistem transportasi, bagaimana kita memilih pemimpin, dan lain-lain. Tampak jelas benang merahnya, bahwa banyak sistem yang diterapkan di negara kita tidak berjalan dengan baik.

Baru-baru ini saya diundang rapat tentang sistem kenaikan jabatan ke Guru Besar, bagaimana memperbaikinya untuk meningkatkan kinerja universitas. Saya kemudian menceritakan tentang pengalaman saya di Pulau Jeju tadi. Intinya, saya bertanya: “apakah sistem kita selama ini berjalan?” Dalam hati, bila sudah tahu bahwa sistem tidak berjalan, kok masih diterapkan. Tidak perlu seorang pakar untuk menyimpulkan bahwa, bila sistem tidak berjalan, maka kita harus menggantinya dengan sistem yang baru, bukan sekadar tambal sulam.

Tentu kita harus mencari akar masalahnya, sebelum kita menetapkan suatu sistem baru untuk mengatasinya. Tetapi kita sering pula tidak sabar dalam hal ini, dan alhasil yang kita lakukan hanya perbaikan ala kadarnya, yang tidak menyelesaikan persoalan. Setelah membaca tulisan ini, setidaknya saya berharap anda akan kerap bertanya ketika dihadapkan pada suatu persoalan: “APAKAH SISTEM BERJALAN?” Selanjutnya anda lah yang mengambil tindakan.

H. Gunawan, 07-03-2015

Menuju Tak Terhingga

Buku “Menuju Tak Terhingga” akan diterbitkan oleh Penerbit ITB pada tahun 2016.

Sampul Menuju Tak Terhingga

Di tahun 2015 ini, saya membuat rangkaian artikel #Sabtuan tentang ketakterhinggaan. Berikut adalah beberapa artikel pertama yang sudah saya tulis:

1. Paradoks Zeno (Zeno’s Paradox)

2. Aristoteles dan Ketakterhinggaan (Aristoteles Rejects Infinity)

3. Paradoks lampu Thompson (Thompson’s Lamp Paradox)

4. Balapan katak Thompson (Thompson’s Frog Race)

5. Memahami Lampu Thompson (Understanding Thompson’s Lamp)

6. Paradoks Hotel Hilbert (Hilbert’s Hotel Paradox)

7. Ketakterhingaan Bilangan Asli (The Natural Numbers’ Infinity)

8. Menghitung Kardinalitas Himpunan (Counting the Cardinality of Sets)

9. Himpunan Bilangan Bulat (The Set of Integers)

Untuk artikel lanjutannya, kunjungi http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan tiap Sabtu😉

H. Gunawan, 07-03-2015

Pohon Keluarga Matematika dan Cuplikan Buku Lingkaran

Sabtu, 20 Desember 2014, merupakan hari istimewa, karena pada hari ini saya bisa bertemu dengan (sebagian) eks-mahasiswa bimbingan saya, baik mahasiswa S1 dan S2 maupun S3. Pada kesempatan langka tersebut, para mahasiswa mengungkapkan pengalaman dan perasaannya ketika dibimbing oleh saya. Sebaliknya, saya menjelaskan tentang pohon keluarga matematika, siapa nenek moyang saya, dan mengingatkan eks-mahasiswa bimbingan saya bahwa mereka satu keluarga, dan sebagai sesama anggota keluarga besar “ayo saling menyemangati” untuk terus berkarya (di bidangnya masing-masing). Berikut adalah slide yang saya presentasikan pada pertemuan tersebut:

Pohon Keluarga dan Lingkaran.

H. Gunawan, 20-12-2014

Kembalikan Kedaulatan Rakyat

Dalam tulisan berjudul “Musang Berbulu Ayam” yang dimuat di Harian Kompas, 10 Oktober 2014, Daoed Joesoef menulis:

“Pergelaran sandiwara dari panggung politik DPR yang memuakkan itu menantang kesadaran rakyat akan hak-haknya yang dirampas begitu saja. Padahal, rakyat telah membiayai para aktor-politik yang tampil keren dan cantik di panggung itu dan kelihatannya betul-betul menjiwai serta menikmati peran amoral masing-masing. Jadi, mereka bukan sekadar bersandiwara, melainkan telah main sungguhan dalam proses barbarisasi.

Barisan rakyat harus didukung, diperkuat, terutama oleh lapisannya yang terdidik, kaum intelektual. Di mana Anda berada? Sedang menyendiri di laboratorium atau bersemadi di perpustakaan atau berpesiar somewhere? Masih jauh larut malam, sudah berkeliaran musang berbulu ayam.”

Pada edisi yang sama, halaman 2, Kompas memberitakan sejumlah ilmuwan Indonesia yang berkumpul di Kampus UI, Salemba, menyampaikan Seruan Moral: Kembalikan Kedaulatan Rakyat. Rupanya, apa yang dirisaukan oleh Daoed Joesoef telah menjadi kerisauan banyak ilmuwan dan pendidik di Tanah Air. Sebanyak 350 ilmuwan, peneliti, dan pendidik telah menyatakan sikapnya. Bagaimana dengan anda?

H. Gunawan, 12-10-2014

Perkalian Bilangan Real

Masih terkait dengan konsep perkalian dua bilangan bulat positif yang ternyata membuat Indonesia heboh itu, berikut adalah sebuah tulisan yang diperuntukkan bagi para sarjana atau mahasiswa yang telah mengambil (dan lulus) matakuliah Matematika Dasar atau yang setara.

Baca di sini –> Perkalian Bilangan Real – 2Okt14

H. Gunawan, 26-09-2014

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers